Mendapatkan Ilmu

:أخي لن تنال العلم إلّا بستة سأنبك أن تفصيلها ببيان

ذكاء وحرص واجتهاد ودرهم وصحبة الأستاذ وطول الزمان

“Saudaraku, kau tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara. Aku akan memberitahukannya kepadamu perihal tersebut : kecerdasan, ambisi, usaha, biaya, interaksi dengan guru, waktu yang leluasa.”

Sebagai santri yang mengenyam pendidikan formal di KMI dari kelas satu dan satu intensive tentunya kita pernah mendapatkan nasihat semacam ini dari guru mata pelajaran Mahfudzat. Semua dari kita, tanpa terkecuali. Apa yang diajarkan guru di KMI sejatinya adalah implementasi dalam perjalanan pendidikan kita selama di Gontor. Salah satu tujuan kita berhijrah tinggal berjauhan dari keluarga dan sanak saudara di kampung halaman adalah keinginan untuk menuntut ilmu. Dan pendidikan.

Mahfudzat atau juga disebut mutiara bijak bahasa Arab merupakan mata pelajaran yang diajarkan di KMI dalam setiap jenjang melihat urgensinya terhadap keilmuan dan kepribadian santri. Berisi nasihat-nasihat bernas sebagai penuntun yang baik untuk menjalani kehidupan beragama dan bersosial, ia mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Tidak sedikit mahfudzat yang mengajarkan tentang pentingnya ilmu dan betapa mulianya kewajiban mununtut ilmu serta penuntut ilmu itu sendiri. Bahkan penuntut ilmu yang baik dan mengajarkannya pada orang lain dinisbatkan sebagai pewaris para nabi. Betapa mulianya.

Namun dalam segala hal, pastinya ada syarat-syarat yang perlu dilaksanakan agar sesuatu yang dicita-citakan dapat tercapai. Termasuk juga dalam menuntut ilmu yang hukumnya wajib bagi umat Muslim. Maka mahfudzat kali ini dengan gamblang menjabarkan persyaratan utama untuk dapat menuntut ilmu di manapun kita berada, khususnya selama pendidikan kita di pondok ini.

Kita tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali melalui enam perkara. Sekilas memang tidak banyak, tapi inilah landasan pokok dalam menuntut ilmu.

Yang pertama adalah kecerdasan. Maksud kecerdasan disini adalah kemampuan intelektual seseorang dalam menyerap ilmu yang ada di sekitarnya, biasa disebut IQ. Seseorang yang dapat menyerap banyak ilmu dalam waktu singkat sering disebut orang yang cerdas. Namun kecerdasan tidak hanya dapat dilihat dari satu sisi karena ia itu relatif. Setiap individu memiliki kecerdasan khas pada bidang yang menjadi minat dan bakatnya. Bukan berarti anak yang tidak cerdas dalam matematika dianggap bodoh, karena bisa jadi dia cerdas dalam bidang lain seperti linguistik atau seni. Tidak ada orang yang tidak cerdas, semua anak Adam telah Allah bekali kecerdasan tanpa kecuali. Tinggal bagaimana kita menggali di manakah letak kecerdasan tersebut dapat berkembang dalam setiap individu.

Lalu ambisi atau ketamakan atas cita-cita yang ingin diraih. Dalam meraih impian dibutuhkan ambisi atau niat yang kuat agar tetap terjaga keberlangsungannya. Menuntut ilmu membutuhkan proses yang tidak mudah dan penuh rintangan. Rasa tamak diperbolehkan, bahkan diajurkan dalam menuntut ilmu sebagai bahan bakar apabila kita mulai merasa jenuh dalam prosesnya. Jikalau ada yang menyebut kita sebagai orang yang ambisius, berbanggalah karena kita berambisi dalam hal nilai sebagaimana yang disampaikan oleh bapak pimpinan pondok kita. Tamak dalam nilai itu boleh, asalkan tidak tamak harta. Dengan ketamakan dan ambisi terhadap ilmu kita akan bersungguh-sungguh dan kuat dalam menjalani proses menuntut ilmu secara maksimal apapun halang rintang yang dihadapi.

Kemudian usaha yang kuat. Dalam salah satu Mahfudzat yang kita pelajari di kelas dua, disampaikan kalau ilmu tidak akan datang apabila kita hanya berkhayal. Ilmu bukanlah ilham yang tiba-tiba bisa langsung datang kedalam pikiran manusia. Untuk mendapatkan ilmu perlu usaha yang keras dan banyak. Makin besar usaha kita makin kuat dan dalamlah ilmu yang akan didapatkan. Sebagaimana usaha Thomas Alva Edison dalam percobaannya untuk menemukan lampu pijar. Ratusan kali percobaan yang gagal tidak dianggapnya sebagai kegagalan, namun ia anggap sebagai “beberapa metode yang tidak sesuai untuk menciptakan bola lampu” yang artinya berupa ilmu baru. Usaha kadang berhasil kadang gagal, jadi dalam menuntut ilmu dibutuhkan doa dan kesabaran yang kuat pula secara terus-menerus. Tapi ingat, ilmu dan diri kita adalah milik Allah. Hendaknya kita turut kembali pada Allah dalam segala usaha dan hasil kita dalam menjalaninya.

Allah telah menyediakan ketentuan yang terbaik jika kita sungguh-sungguh dalam berusaha dan sabar.

Yang keempat yaitu biaya. Tidak bisa dipungkiri belajar membutuhkan banyak biaya, bahkan dalam belajar otodidak sekalipun seperti untuk membeli buku-buku dan fasilitas penunjang pembelajaran. Pendidikan formal apalagi, ada pembiayaan yang perlu dibayarkan secara rutin  untuk kepentingan berjalannya proses pendidikan. Jangan anggap biaya yang kita keluarkan untuk pendidikan tidak menghasilkan apa-apa. Ia merupakan investasi masa depan yang tidak ternilai karena ilmu yang didapatkan dari proses menuntut ilmu akan selalu berguna hingga kemudian hari.

Interaksi dan pertemanan dengan guru kita juga penunjang untuk mendapatkan lebih banyak ilmu. Baiknya kita selalu mendekatkan diri kepada orang berilmu agar kita bisa menggali ilmu langsung pada sumbernya. Bahkan memuliakan ulama ataupun guru merupakan bentuk ibadah yang disenangi Allah. Dengan memuliakan guru kita bisa mendapat ridho yang dapat menambahkan keberkahan dalam ilmu yang kita pelajari.

Waktu yang lapang dan leluasa juga dibutuhkan karena dalam menuntut ilmu ada proses dan tahapan yang harus ditempuh agar ilmu yang didapatkan lebih mengakar dan kuat dalam diri kita. Tanpa waktu yang lapang maka seorang penuntut ilmu bisa jadi mustahil untuk mendapatkan apa yang dicari karena proses adalah waktu. Jihad menuntut ilmu memang butuh pengorbanan termasuk pengorbanan atas waktu yang telah Allah anugerahkan.  Waktu adalah kehidupan. Para ilmuwan Muslim yang kontribusi keilmuannya sangat besar dan masih terasa hingga saat ini adalah orang-orang yang mendedikasikan waktunya khusus untuk menuntut ilmu dalam hidupnya. Tidak sedikit yang hidup membujang dikarenakan besar cintanya terhadap ilmu. Ilmu yang dengan mempelajarinya meningkatkan keimanan dan keyakinan kepada Allah.

Sobat, itulah diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kita bisa menuntut ilmu. Apabila kita pincang dalam salah satu diantaranya, kemungkinan untuk mendapat ilmu yang bermanfaat tentulah kecil. Tetaplah berusaha dalam meraih cita-cita yang diimpikan dengan menuntut ilmu karena Allah telah menjanjikan kemuliaan dan kebahagiaan bagi orang yang menuntut ilmu di jalan-Nya dengan ikhlas dunia dan akhirat.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s