“Ghibah”

Di kehidupan sehari-hari kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan interaksi dan komunikasi dengan sesama. Makin sering kita keluar untuk menjemput pertalian kemanusiaan maka akan makin banyak pula pengalaman dan wawasan yang akan kita dapatkan. Mustahil seseorang dapat hidup sebatang kara tanpa berhubungan sama sekali dengan manusia lainnya.

Namun ada satu bentuk dari komunikasi yang tidak disukai dalam Islam, yaitu menyebarkan aib orang lain dalam suatu majelis atau kita sebut gosip. Nabi Muhammad SAW. mengistilahkannya dengan ghibah. Begitu buruknya perilaku ghibah hingga dalam firman-Nya para pelaku dan yang menanggapi serta yang ikut memfasilitasi mendapatkan ganjaran berupa perumpamaan seperti memakan bangkai saudaranya yang di-ghibah-kan.

Kita lihat surah Al-Hujarat ayat 12 yang artinya,

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Jangankan memakan daging busuk saudara kita, memakan daging segarnya pun sudah berupa perumpamaan yang buruk. Padahal Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa yang menutupi aib saudaranya maka Ia akan ditutupi aibnya di hari kiamat.

لا يستر عبد عبدا في الدنيا إلا ستره الله يوم القيامة

Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.” (HR. Muslim no. 6537)

Aib adalah sesuatu yang apabila orang lain mengetahuinya akan menimbulkan rasa malu bagi pemikulnya. Tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan dan kekhilafan karena masing-masing masih belajar untuk hidup dan membutuhkan muhasabah setiap saat untuk dapat menjadi lebih baik. Maka indah sekali al-Qur’an memerintahkan manusia untuk saling menasihati dalam kebenaran (QS. Al-‘Asr 103 : 3).

Jadi, sebagai sesama manusia yang beriman dan berakhlaq hendaknya kita memperbanyak untuk saling menasihati pada kebaikan apabila kita melihat adanya kesalahan dalam diri saudara kita, bukannya diumbar keburukannya kepada orang lain yang mungkin tidak tahu menahu akan urusannya. Selain dapat memicu fitnah ia juga bisa merenggangkan tali silaturahim dan kenyamanan dalam bermu’amalah. Jika kita mengembalikan tatanan kehidupan kita sesuai pedoman dalam al-Qur’an dan al-Hadist sungguh kehidupan yang lapang dan harmonislah yang akan kita rasakan.

-Pernah dimuat dalam Pembaca Menulis, Islam Digest Republika, Ahad 17 April 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s