Resume : Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonialis)

Pada masa kini kita dapat melihat dengan jelas beragam pemikiran barat yang seakan dipaksakan masuk kedalam pikiran beragam bangsa di dunia, khususnya bangsa Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak wajar, karena umumnya bangsa yang lemah akan meminjam ide, konsep dan tehnik dari yang kuat secara sadar, bukannya dipaksakan sebagaimana kenyataan yang ada.

Proses tersebut disebut sebagai Westernisasi sebagai bentuk penjajahan model baru bangsa barat atau Liberalisasi yang ditunggagi oleh tiga agen utama, yaitu kolonialisme, missionarisme, dan orientalime. Bahkan agen ini tidak hanya datang dari bangsa barat sendiri, namun juga dari kalangan cendekiawan Muslim hasil kaderisasi pendidikan barat yang khusus direkrut sebagai penyebar paham liberalisme yang kemudian di tangan mereka diklaim sebagai “pembaharuan pemikiran Islam”.

Umat Islam dewasa ini memang menghadapi beragam tantangan yang begitu rupa, tidak hanya dari eksternalnya saja, tapi internalnya pula digempur oleh beragam hal dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pemikiran. Bahkan tantangan pemikiran Islam muncul dari dua sisi sekaligus, internal dan eksternal.

Secara khusus oknum yang berusaha menggerus nilai keislaman bagi para Muslim ialah  bangsa barat yang pada perkembangannya memiliki ide modernisme dan rasionalisme sebagai hasil dari sekularisasi kehidupan mereka. Kebudayaan Barat (Western Civilization) berkembang mewarisi unsur-unsur kebudayaan Yunani Kuno, Romawi, dan unsur-unsur lain dari budaya bangsa-bangsa Eropa, khususnya Jerman, Inggris, dan Prancis. Sebagian penulis, seperti Samuel Huntington, memasukkan agama (religion)–dalam hal ini Kristen–sebagai unsur penting yang membentuk kebudayaan Barat. Demikian ditulis dalam buku populernya The Clash of Civilizations and Remaking of World Order (1996). Namun kemudian agama di barat berganti menjadi sekular. Sekularisasi disebabkan oleh kekecewaan mereka terhadap kekuasaan gereja (agama) yang menghambat kesejahteraan mereka dimasa lampau (dark age). Sebagai kesinambungannya mereka  ingin menyebarkan desakralisasi agama-agama dan menggeser nilai dan moral agama tradisional sehingga justru muncul humanisme sebagai agama baru pengganti agama-agama metafisis yang ada setelah sebelumnya mereka menganut pandangan filsafat empirisme (serba rasional dan saintifik) dan prinsip dualisme yang memandang segala sesuatu secara dikotomis.

Yang meresahkan mereka memaksakan ideologi mereka kepada bangsa lain sebagaimana yang dijabarkan sebelumnya.

Apabila disarikan worldview barat modern ialah sebagai berikut:

  • Rasionalisme;
  • Empirisisme;
  • Sekularisme;
  • Desaklarisasi;
  • Non-Metafisis;
  • Dichotomy;
  • Pragmatisme,

yang mana pada perkembangannya hanya bertumpu pada rasio dan spekulasi filosofis, bukan pada agama. Inilah asas peradaban barat modern.

Akan tetapi selanjutnya muncul gerakan lain yang lahir sebagai bentuk protes dari modernisme, sebagai kelanjutan dari peradaban pemikiran barat yang sedikit banyak sebetulnya masih berasas pada modernisme sendiri. Dikenal dengan post-modernisme. Yang terkenal pada masa ini adalah nihilisme sebagai sistem pemikiran yang ingin menghapuskan nilai-nilai atau sisi metafisis dari segala sesuatu, maka ini berimplikasi pada ‘’peremehan” doktrin keagaaman. Tokoh utamanya yaitu Karl Marx (1818-1883) dan Nietzche (1844-1900).

Intinya karena nilai-nilai telah dihapuskan (termasuk nilai tertinggi-ketuhanan) maka agama-agama tradisional otomatis ikut tersingkirkan berganti dengan nilai-nilai universal, hasil penolakan terhadap kebenaran transenden. Paham relativisme mengaburkan truth-claim tiap agama hingga akhirnya melebur dan tenggelam. Hak untuk menyatakan kebenaran ajaran agama dibanding nilai-nilai yang lain sebagaimana yang telah disusun para filosof telah hilang. Agama dianggap sama dengan pemikiran dan pemahan manusia yang subjektif dan tidak absolut. Ini sama saja seperti penyetaraan antara nilai-nilai teologis yang datang dari wahyu Tuhan dengan filsafat hasil pikiran manusia. Hingga muncul paham pluralisme yang merembet pada pluralisme agama dimasa ini.

Berikut penjabaran worldview barat post-modern:

  • Nihilisme,
  • Relativisme,
  • Anti-Otoritas,
  • Pluralisme,
  • Multikulturalisme,
  • Persamaan Equality,
  • Feminisme / Gender,
  • Liberalisme.

Sebetulnya memang hampir sama dengan modernisme, hanya saja post-modernisme lebih licik daripada modernisme yang memang berusaha memisahkan unsur keagamaan dalam kehidupan masyarakat secara gamblang. Post-modernisme tetap membiarkan agama-agama dianut, akan tetapi ia menghancurkan esensi dari agama itu sendiri dengan pengaburan nilai transenden dan relativisme. Pada akhirnya karena tidak ada yang mutlak maka agama pun bukan suatu hal yang perlu disakralkan sedemikian rupa dan tujuan akhirnya ialah nilai agama dan agama itu sendiri hilang perlahan.

Yang menjadi bahasan utama dalam buku ini ialah mengenai Liberalisme. Ini adalah sebuah paham yang didasarkan pada kebebasan dan persamaan hak, yang bermimpi akan lahirnya suatu masyarakat yang bebas, baik dalam cara berpikir ataupun bertindak bagi setiap individu. Oleh karena itu, liberalisme menolak adanya pembatasan dalam segala hal, terutama oleh negara dan agama. Ini sangat sesuai dengan sistem berpikir yang digunakan, yaitu nihilisme dan relativisme.

Secara ideologis, liberalisme adalah suatu paham yang membebaskan diri dari ajaran agama. Mereka mengakui adanya tuhan tapi tidak mau terikat dengan ajaran Tuhan (agama). Atau beragama tapi tidak mau tunduk pada ajaran Nabi. Bertuhan tanpa agama dan beragama tanpa syari’at.

Sedangkan secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang memberikan superioritas individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi seperti yang ditulis Simon Blackburn yang terdapat pada Oxford Dictionary of Philosophy.

Dalam masyarakat kekinian, liberalisme akan dapat tumbuh subur di bawah naungan sistem demokrasi. Karena keduanya sama-sama mendasarkan pada kebebasan mayoritas, kebebasan berpikir, kesetaraan gender, emansipasi. Yang dutamakan adalah suara yang terbanyak, milik siapapun itu.

Orang yang liberal menjadi percaya pada Tuhan, tapi tidak mau terikat dengan ajaran Tuhan (agama). Mereka tidak mau terikat oleh apapun selain untuk kepentingan pribadinya (pragmatis). Dalam liberalisme, konsep Tuhan (teologi) dan doktrin agama, merupakan persoalan yang dianggap mengganggu kebebasan. Karena itu, sebagaimana kaum atheis, kaum liberal juga mengejek dengan mengatakan ‘tuhan telah mati’. Mereka pun memisahkan antara ajaran agama dan moral. Mereka berkesimpulan bahwa orang yang tidak beragama sekalipun dapat menjadi moralis. Agama juga tertolak apabila memasuki ranah publik dan pemerintahan.

Liberalisasi dilancarkan bangsa barat untuk merusak negara Muslim di timur dilakukan melalui berbagai cara. Di Indonesia, salah satunya melalui pengajuan RUU KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender) yang justru semakin menghinakan kaum perempuan, pelegalan pornoaksi dan pornografi sebagai seni dan nilai budaya, penghapusan kolom agama dalam KTP, dan banyak lagi yang lainnya. Untuk hari-hari ini yang sedang hangat adalah mengenai hak-hak LGBT.

Lebih rincinya diantara strategi penerapan liberalisasi di Indonesia khususnya dalam pemikiran yaitu:

  • Penyebaran doktrin relativisme;
  • Melakukan kritik terhadap al-Qur’an;
  • Penyebaran paham pluralisme agama;
  • Mendekonstruksi syari’ah;
  • Penyebaran paham feminisme dan gender.
Advertisements

One thought on “Resume : Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonialis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s