Review: Tajdid dan Modernisasi Pemikiran Islam (Makalah oleh Al-Ustadz Dr. Amal Fathullah Zarkasy, M.A. dalam Jurnal Tsaqofah volume 9, No. 2, November 2013)

 

Peradaban akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Sebagaimana peradaban pada umumnya, Islam sebagai din atau asal kata dalam terminologi bahasa Arab tamaddun (peradaban)[1] pun memiliki siklus tersendiri dalam sejarah. Di satu titik ia berjaya, dan di masa lainnya ia berada dalam keterpurukan. Contoh konkret mengenai proses jaya-runtuhnya peradaban dapat dilihat pada  peradaban Yunani kuno, Imperium Persia, dan Imperium Romawi. Dan salah satu dasar dari peradaban adalah pemikiran atau framework berpikir bangsa yang hidup di dalamnya. Pemikiran yang benar akan mengantarkan pada kemajuan peradaban yang mumpuni, sedangkan pemikiran yang rancu akan mengaburkan identitas dan merusak tata kehidupan masyarakat yang terbentuk di dalamnya.

PEMBAHASAN

Islam tumbuh tidak hanya sebagai agama yang berisi ritual-ritual peribatan pada Yang Maha Kuasa, tapi ia muncul sebagai rahmatan lil-‘alamin, meluruskan manusia pada esensinya sebagai makhluk yang butuh pedoman dan tuntunan berupa aturan-aturan dan nilai-nilai. Peradaban yang hadir dalam corak syari’at Islami pada masanya berkembang pesat menguasai hampir seantero dunia. Islam mengatur hubungan antar individu, antar komunitas, dan seluruh aspek dalam kehidupan sehingga menghasilkan peradaban yang maju dan sejahtera baik secara fisikal maupun rohani. Segala sesuatunya disandarkan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah sebagai tonggak peradaban Islam.

Namun jika kita tilik kembali pada frasa yang muncul di awal tulisan ini, tidak dapat dipungkiri bahwa sehebat apapun suatu peradaban atau selemah apapun peradaban yang terbentuk ia tak akan lepas dari siklus-siklus yang ada sesuai suratan sejarah yang berlaku. Apabila suatu peradaban tidak bisa mengikuti arus perkembangan zaman, maka ia akan tergerus dan terlindas oleh peradaban baru, walaupun tidak dapat kita sangsikan bahwa antara peradaban satu dengan yang lain saling berhubungan dan terdapat proses pinjam meminjam kebudayaan dengan mekanismenya sendiri-sendiri.[2]

Dalam tulisan yang dimuat milik Al-Mukarrom Al-Ustadz Amal Fathullah Zarkasyi berjudul “Tajdid dan Modernisasi Pemikiran Islam”, kita dapat melihat fakta bahwasanya peradaban dengan asas agama Islam saat ini memang di ambang keterpurukan dan mendapat gempuran dari berbagai pihak, khususnya dalam hal pemikiran (ghazwatul fikri)[3] serta mengalami distorsi[4] dan dekonstruksi.[5] Menurut beliau, sarana untuk mengatasi permasalahan pelik tersebut diantaranya dengan mengaplikasikan konsep tajdid dan ijtihad.[6]

Menurut beliau, adanya pembaharuan (tajdid) disertai analisis mendalam terhadap masalah-masalah baru dalam kehidupan manusia (ijtihad) dan pemikiran Islam mutlak dibutuhkan karena begitu cepatnya terjadi perubahan dan perkembangan di era modern. Kompleksnya permasalahan yang muncul menyebabkan nushus dalam Al-Qur’an dan Hadist tidak lagi cukup untuk menerangkan setiap hukum bagi setiap kejadian yang ada zaman sekarang. Maka dengan adanya tajdid diharapkan permasalahan yang ada dapat dikondisikan untuk tetap terkendali dalam lingkup tatanan syari’at Islami.

Selain itu, makalah ini menjelaskan secara rinci makna dari term tajdid dilihat dari beragam sisi untuk memperjelas konteksnya, baik dari segi peletakkannya dalam Al-Qur’an, Al-Hadist, hingga pendapat Ulama Salaf. Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan jika pembaharuan dalam pemikiran Islam berbeda dengan praktik bid’ah maupun modernisasi. Nyatanya dengan jauhnya jarak umat Islam saat ini dengan nubuwwah seringkali ajaran Islam berusaha di-modern-kan oleh para liberalis dengan alasan untuk mengikuti perkembangan zaman yang selalu berjalan. Padahal kita tahu, Islam sudah mapan dan disempurnakan oleh Allah Swt. saat Rasulullah SAW. melaksanakan haji Wada’ dalam wahyu yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 3.

Secara gamblang beliau memberi batas yang tegas antara tajdid dan modernisasi pemikiran Islam sebagai berikut:

”Jika tajdid menghidupkan kembali ajaran Islam yang telah terhapus dan terlupakan dan dikembalikan kepada masa Islam awal (salaf), sedangkan modernisme adalah usaha untuk mewujudkan relevansi antara Islam dan pemikiran abad modern yaitu dengan meninjau kembali ajaran–ajaran Islam dan menafsirkannya dengan interpretasi baru, untuk menjadikan Islam sebagai agama modern”.[7]

Dr. Amal juga memberikan uraian yang jelas atas perbedaan mendasar antara tajdid dan modernisasi pemikiran Islam. Ini terlihat dari pembuktian berupa jenis-jenis gerakan tajdid yang telah dilaksanakan oleh para pembaharu (Mujaddid) sejak masa khulafa’u ar-rasyidin hingga pembaharu di era modern, diikuti dengan jenis-jenis modernisasi pemikiran Islam oleh para pemikir Islam Liberal disertai kritik terhadap bentuk pemikiran para tokoh tersebut.

Dapat disimpulkan, bahwa makalah ini menolak atas pemberlakuan modernisasi atas ajaran agama Islam. Dan sebaliknya mendukung gerakan tajdid karena pada hakikatnya modernisasi itu sendiri adalah sarana untuk menghancurkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama yang berlaku. Akhirnya pemikiran keagamaan yang disusupi oleh modernisme akan kehilangan esensinya dan kemudian hilang[8] seperti yang direncanakan oleh kaum liberal terhadap agama-agama yang ada.[9]

PENUTUP

Berhubungan dengan masalah peradaban yang dibahas di awal tulisan, salah satu pemicu bangkitnya suatu peradaban kembali pada corak pemikiran masyarakat yang hidup di dalamnya. Apabila pemikiran suatu bangsa dalam peradaban itu benar, akan berimplikasi pada perkembangan dan kemajuan peradaban yang signifikan. Sedangkan jika framework yang digunakan tidak tepat, bahkan dekonstruktif, tak ayal bangsa tersebut akan kehilangan identitas dan pada akhirnya hilang tergantikan. Gerakan pembaharuan dalam pemikiran Islam dapat menjadi solusi atas keterpurukan umat masa kini, dengan ijtihad yang benar dan tidak keluar dari koridor yang berlaku.

[1] Hamid Fahmy, Membangun Peradaban Islam yang Bermartabat, CIOS, 2009, hal. 7

[2] Dr. Hamid Fahmy, Akar Kebudayaan Barat, http://hamidfahmy.com/, di akses 20 Sept 2016

[3] ____, Liberalisasi Pemikiran Islam, CIOS, 2008, hal. 43.

[4] Dr. Amal Fathullah, Tajdid dan Modernisasi Pemikiran Islam, dalam Tsaqafah, volume 9, No. 2, November 2013, (Ponorogo: ISID Gontor), 396.

[5] Op. Cit., hal. 104.

[6] Dr. Amal, Op. Cit., 396.

[7]Ibid., hal. 408.

[8]Dr. Hamid Fahmy, Op. Cit., hal. 6

[9]Ibid., hal. 36. Disini yang disampaikan ialah mengenai paham liberalisme yang memarginalkan atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik secara perlahan-lahan. Agama tidak diberi tempat diatas kepentingan sosial dan politik. Singkatnya pemikiran ini adalah worldview bangsa barat yang ingin disebarkan ke negara-negara dunia ketiga termasuk kedalam dunia Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s