Tasawuf di Era Modern

Bismillahirrahmanirrahim…

Tasawuf adalah salah satu bidang dirasah Islamiyah yang dapat dipelajari dan didalami oleh siapa saja yang telah memiliki landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana fiqih, hadist, tafsir, nahwu, dan lainnya. Ia memiliki garis historis yang dapat ditarik jauh sebelum agama Islam datang, walaupun istilah tasawuf sendiri muncul setelah Rasulullah wafat. Pengertian  dari istilah Tasawuf sangat banyak, namun yang paling umum digunakan adalah ilmu yang mempelajari tata cara untuk dapat mendekatkan diri pada Allah sebagai hamba yang berserah. Teori mengenai asal kata tasawuf sendiri beragam dari berbagai sumber, tapi yang sering dipakai adalah nisbah bagi Ahlu-Shufah pada masa Rasulullah yang berdiam di serambi masjid Nabawi untuk  beribadah dan menuntut ilmu agama hingga meninggalkan kenikmatan duniawi.

Seiring berkembangnya keilmuan dan peradaban manusia, ilmu-ilmu yang adapun ikut berkembang, termasuk Tasawuf. Pada awalnya tasawuf didalami oleh para sufi yang beribadah dengan giat agar mendapatkan kenikmatan dalam berinteraksi dengan Allah, hingga pada masanya munculah klasifikasi dalam ilmu tasawuf seperti tasawuf sunni, tasawuf ‘irfani, tasawuf falsafi, hingga tasawuf syi’ri tergantung para pengamalnya.

Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada umat manusia sebagai pamungkas bagi agama-agama samawi sebelumnya. Dengan turunnya agama Islam, agama-agama terdahulu yang telah terkontaminasi dengan bid’ah dan khurafat secara otomatis terhapuskan dan penganutnya jika tidak menuju pada Islam maka akan tenggelam dalam kesesatan. Namun, ujian bagi agama Allah sungguhlah berat semenjak diturunkan melalui tangan utusan-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu banyak halang rintang yang dilalui Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dapat menyampaikan ajaran hanif kepada sekalian manusia. Bahkan dalam perjalanannya yang hampir lima belas abad ini Islam tidak hentinya berusaha dihancurkan oleh musuh-musuh Allah. Allahu ‘ala kulli syai in qadir. Segala sisi dan celah digunakan mereka untuk menghilangkan jejak Islam di bumi Allah, diantaranya dengan dekonstrusi syari’ah dan penyelewengan aqidah. Rekayasa ajaran tasawuf menjadi jalan yang cukup mulus untuk dapat merusak keyakinan umat Islam, khususnya dengan teori esoterik dan eksoterik yang digagas oleh para transendentalis dan tradisionalis. Mereka mengaku sebagai penganut agama Allah, tetapi praktek ajarannya merubah orientasi keagamaan dan mereka dengan gigih menyebarkan kesesatan tersebut melalui beragam media termasuk dalam karya tulis ilmiah. Di zaman modern manusia mengedepankan rasionalitas. Dengan kecerdasan retorika dan argumentasinya mereka membawa rasio manusia untuk mengikuti ajaran mereka yang kemudian mengamini apapun yang mereka sampaikan. Pada akhirnya yang benar dan yang salah tidak dapat lagi dibedakan karena yang menjadi tolak ukur adalah manusia, bukan kitab dan sunnah. Tasawuf yang digagas transendentalis menawarkan pada manusia aspek inti ajaran keagamaan dalam setiap agama. Yang Inti atau sering disebut sebagai Yang Transenden ini hanya satu, Yang Esa. Agama-agama yang ada didunia ini adalah kulit luar dari inti tersebut. Sebagaimana manusia, walau tubuhnya satu tapi pakaiannya yang menutupi bisa jadi lebih dari dua atau tiga, bahkan puluhan. Jadi transendentalis ingin menyatakan bahwa semua agama itu memiliki satu titik yang sama dalam ranah esoteris walaupun ajarannya dan namanya berbeda-beda dalam praktek sebagai ranah eksoteris. Karena memiliki inti yang sama, maka tidak layak bagi pengnut agama tertentu untuk menyatakan bahwa agamanya yang paling benar diantara agama yang lain. Semua agama benar, semuanya dari Yang Transenden, memiliki inti yang sama walaupun berbeda-beda. Diperkuat lagi dengan pencatutan konsep Wahdatul Wujud Ibnu Arabi dalam taswuf falsafinya yang menyatakan bahwa realita hanyalah satu, sedang yang lain adalah manifestasi dari wujud-Nya. Konsep ini memang mendapatkan banyak penafsiran sehingga tidak sedikit ulama yang menganggap ajaran Ibnu Arabi sesat, bahan adapula yang mengkafirkannya karena mengangap ajaran ini sama dengan pantheisme. Padahal bagi yang memahami, konsep Wahdatul Wujud adalah tingkatan tauhid tertinggi sebagai aplikasi dari qaul la ilaha illallah. Tiada tuhan melainkan Allah. Pencatutan konsep tasawuf dan ulama sufistik dalam ajaran transendentalis makin menguatkan argumen mereka untuk menghancurkan aqidah umat Islam agar menerima pluralisme agama dari dalam. Tokoh yang paling bertanggung jawab dalam ajaran tasawuf demi pluralisme agama ini adalah Frithjof Schuon. Schuon adalah salah satu pemikir dalam bidang keagamaan yang memiliki cukup banyak karya intelektual dan pengikut dari lintas agama, walau dia menyatakan dirinya sebagai orang Islam. Ia memiliki konsep dalam kesatuan agama yang berasaskan pada filsafat perennial dan teori esoterik eksoterik. Ia adalah salah satu peneliti dalam pemikiran tasawuf Ibnu Arabi, khususnya konsep Wahdatul Wujud yang ia legitimasikan sebagai inspirasi bagi kesatuan agamanya yang menjurus pada pluralisme, khususnya sinkritesme agama-agama. Bahkan ia memiliki tarikat tasawuf bernama tarikat Maryamiyah yang menjadikan kesucian Maryam binti Imran sebagai esensi tazkiyatunnafsi dengan ritual-ritual bid’ah dan tidak sesuai dengan syari’at Islam yang lurus. Ajaran dalam tarikat ini menggabungkan antara ritual dalam agama Islam, Kristen , dan Hindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s