Book’s Review : Kemi 3

2061-500x500
KEMI 3 : Tumbal Liberalisme
 Penulis : Adian Husaini
 Penyunting : Shabira Ika
 Perwajahan Isi : Yani
 Penata Letak : Jatmiko
 Desain Sampul : Fauzi A. Antawirya
 268 hlm; 18,3 cm
 Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1436 H / April 2015 Jakarta,Gema Insani
 ISBN : 978-602-250-260-9

“Inilah akhir perjalanan Kemi. Setelah “bermain-main”, kemudian “terjebak” serta “tersesat” dalam kubangan liberalisme, santri cerdas bernama Kemi akhirnya menemui nasib tragis: diperas, dihinakan, disiksa, kemudian diakhiri hidupnya.”

Memang begitulah gambaran singkat dan tepat mengenai kisah yang akan kita susuri dalam sekuel terakhir trilogi Kemi. Dalam lingkup liberalisasi Kemi berperan sebagai aktivis yang vokal dalam menyebarkan paham liberalisme dan menjadi salah satu anak emas yayasan liberalisasi Indonesia She-Cooler Foundation, bergerak dalam bidang penyebaran paham-paham barat di masyarakat Indonesia. Padahal ia memiliki latar belakang yang gemilang sebagai santri unggulan di pondok pesantrennya, bahkan telah diamanahi sebagai tenaga pengajar di pondok tersebut di bawah bimbingan Kiyai Rois.

Ia ikut bergabung dengan jaringan liberalisasi di Indonesia atas hasutan Rowan yang telah dianggapnya teman dan ternyata justru menjerumuskannya tanpa disadari disamping karena sakit hati pribadinya atas cinta bertepuk sebelah tangan terhadap Cahaya Imani, anak dari Kiyai Rois pemimpin pesantrennya. Pada kisah yang tertulis pada sekuel sebelumnya, kondisi Kemi babak belur dan diperlakukan tidak layak oleh komplotan kaum liberal yang memperalatnya, kemudian menghilang diculik dari sebuah Rumah Sakit Jiwa. Ungkapan Kemi yang cukup nyeleneh sebagai aktivis liberalisasi yaitu, “saya ikhlas menjadi seorang liberal,”. Sahabat karibnya Rahmat pun mendapatkan tugas dari Kiyai Rois untuk membawa kembali Kemi ke jalan yang benar. Detail sepak terjang Kemi dalam aktivitas liberalisasi dapat dirunut dalam kedua sekuel pendahulunya.

Dalam buku terkhir ini, Kemi muncul mengawali kisah dalam keadaan tidak berdaya didampingi doktor Rajil dan paman kesayangannya Pak Karmi di tempat yang belum teridentifikasi. Pak Karmi sebagai orang yang dipercaya doktor Rajil kehadirannya dapat mempercepat kesembuhan Kemi tidak mengenal lokasi yang di pijaknya. Atas doa dan terapi yang diberikan, Kemi dapat pulih dengan cepat dan segera diantarkan kembali ke pondok pesantren sesuai keinginannya saat sadar. Bahkan ia meminta izin untuk dapat mengajar kembali di pondoknya. Pak Karmi masih menyimpan tanda tanya besar terhadap pihak yang menjemputnya dan membiarkan Kemi kembali ke pondok bersamanya. Disamping itu, pasca hilangnya Kemi para kenalan dan orang-orang yang mempedulikan pekembangan Liberalisme di Indonesia bersinergi untuk dapat menemukan Kemi. Tim pencari Kemi yang terdiri dari seorang wartawan senior Ahmad Petuah, Rahmat sahabat Kemi dari pesantren, dokter Nasrul pakar kejiwaan, Bejo mantan wartawan infotaiment kontroversional dan seorang habib yang dalam alur dikisahkan sedang umroh Habib Marzuki namun tetap berkomunikasi intens dengan anggota tim yang lain merapatkan barisan. Bertempat di ruang rapat redaksi Harian Indonesia Jaya, tim berdiskusi tentang hilangnya Kemi dan strategi pencariannya.

Percakapan yang berlangsung mengalir membahas beragam hal termasuk selingan kisah percintaan antara Rahmat dan Siti sebagai bumbu yang dapat mengurangi ketegangan para tokoh sesaat. Yang menjadi sorotan utama diantara percakapan para tokoh ini ialah mengenai sekularisasi pendidikan di Indonesia. Ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Indonesia kebanyakan sarat dengan ilmu-ilmu sekuler yang memisahkan antara campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta, termasuk ilmu itu sendiri. Sekularisasi di setiap lini kehidupan masyarakat hingga pendidikan telah merasuk tanpa disadari sepenuhnya oleh para pemangku kebijakan, atau lebih tepatnya tidak dipedulikan atas beragam kepentingan. Pendidikan berbasis agama, khususnya Islam dianggap sebagai pendidikan kelas dua yang kalah gengsi dibandingkan dengan pendidikan umum. Kompetensi guru agama kurang dilirik. Jurusan pendidikan agama Islam dipandang sebelah mata. Lulusan perguruan tinggi Islam biasanya dianggap memiliki kapasitas dibawah lulusan perguruan tinggi umum. Satu dialog yang cukup menohok dilontarkan seorang tokoh:

“Maksud Dokter, anak-anak pintar disuruh memilih kuliah Jurusan Agama Islam supaya nanti bisa menjadi guru agama, begitu? Apa anak Pak Dokter yang pintar mau kuliah di Jurusan Tarbiyah? Andaikan dibolehkan agama, apakah ada anak guru agama yang disuruh orang tuanya menjadi guru agama jika ia ranking satu di sekolahnya? Mungkin saja ada, tetapi saya belum ketemu, seperti Pak Dokter tadi.”-hal 101

Dari dialog diatas kita dapat melihat gambaran nyata kondisi pendidikan agama Islam di Indonesia, yang kebanyakan pemainnya dianggap orang-orang buangan yang tidak diterima diperguruan tinggi negeri setelah kelulusan dari sekolah menengah, walaupun wacana ini tidak sepenuhnya benar. Nyatanya banyak pula doktor-doktor dan cendekiawan muslim kompetentif yang muncul dibawah tempaan perguruan-perguruan tinggi Islam Indonesia. Disamping itu novel ini menawarkan solusi pada problem yang diangkat berupa dialog balasan terhadap dialog sebelumnya diatas, diantaranya yaitu dengan meningkatkan kualitas dosen di Jurusan Pendidikan Islam itu sendiri, menajemen pendidikannya, lalu sistem penggajian guru di lembaga pendidikan tersebut walaupun membutuhkan proses yang tidak singkat.

Masih asyik berdiskusi, sampailah kabar kembalinya Kemi di pondok pesantren yang menerbitkan kebingungan lanjutan besar bagi tim pencari. Setelah dipukuli lalu diculik, kenapa sekarang dikembalikan begitu saja? Tentunya secara logika hal tersebut tidak masuk akal.

Bagian lain di novel ini juga menceritakan tentang nasib doktor Rajil salah satu tokoh berat liberal yang bertanggung jawab atas hilangnya Kemi pada kisah yang lalu. Ia sempat berdebat dengan Ben Rushact pemimpin yayasan Liberalisasi mengenai rencana pemfungsian Kemi bagi masa depan program mereka yang senantiasa mendapatkan kucuran dana segar dari Amerika. Sayangnya, disaat doktor Rajil yang liberal mulai menunjukkan indikasi akan bertaubat setelah berbicara hati ke hati dengan Susiani istrinya yang anti liberal dan mencium aktivitas suaminya dalam penyebaran paham liberal, dia ditemukan tewas dengan mulut berbusa.

Nasib Kemi pun tidak hanya berhenti sampai di pesantren. Sepeninggal doktor Rajil dia dikejar-kejar oleh orang-orang suruhan kaum liberal. Kyai Rois mengambil inisiatif untuk mengamankan Kemi ke tempat yang lebih aman. Namun nahas, ternyata Kemi meninggal di tempat tersebut dengan mulut berbusa seperti doktor Rajil. Menurut teori yang dipaparkan dokter Nasrul, kemungkinan di dalam tubuh Kemi telah disuntikkan racun yang akan membunuhnya dalam jangka waktu tertentu jika tidak diberi penawarnya, dan penawar racun tersebut ada di tangan kaum liberal. Jika Kemi bersedia mengikuti kaum liberal dan belajar di luar negeri, maka nyawa Kemi akan terselamatkan. Tetapi, sejauh ini Kemi berada dalam pengawasan ketat Kyai Rois dkk. sehingga racun tersebut menggerogoti tubuhnya dan pada akhirnya Kemi meninggal dengan mengenaskan.

Walaupun tokoh utama dalam kisah ini meninggal secara tragis sebagai tumbal liberalisme sebagaimana judul dalam sekuel trilogi Kemi ini, sebenarnya novel ditutup dengan akhir yang bahagia. Cinta antara Rahmat dan Siti akhirnya dapat disatukan dalam ikatan sakral, ditambah Rahmat mendapatkan amanah untuk menjadi pengurus pesantren Minhajul Abidin sebagai wakaf umat. Kiyai Rois sendiri merealisasikan niatnya untuk menuntut ilmu kembali di Timur Tengah beserta putrinya Cahaya Imani yang telah terlebih dahulu belajar disana. Namun kali ini Cahaya Imani tidak hanya kembali mengkaji ilmu di Timur Tengah bersama sang ayah saja, tapi didampingi Bejo yang dinikahkan dengannya. Kiyai Rois percaya bahwa Bejo tepat untuk membimbing Cahaya karena sudah sangat matang dalam lapangan kehidupan. Maka berakhirlah kisah Kemi dalam Kemi 3 : Tumbal Liberalisme walau perjuangan untuk melawan pemikiran-pemikiran liberal dan pemikiran barat kontemporer lainnya yang dapat merusak umat, bangsa dan negara tidak akan pernah berakhir.

Sebagai cendekiawan Muslim yang produktif menelurkan karya dalam bidang pemikiran Islam, tema Liberalisme tetap dikemas Adian Husaini dengan kemasan yang amat pantas untuk dilirik dan sayang untuk dilewatkan. Kali ini dalam bentuk novel. Novel Kemi memang bukan novel biasa seperti yang termaktub di sampul depan novel ini, tapi merupakan novel pemikiran yang bernas. Ia berupa trilogi yang pada masing-masing judul memiliki fokus pembahasan yang spesifik. Hal ini tentunya memberikan angin segar bagi para penelaah kajian pemikiran Islam kontemporer yang ingin mendalami lebih lanjut akan penetrasi Liberalisme di Indonesia beserta argumen-argumen dan pematahan logisnya dengan nuansa yang lebih “ringan”, namun tetap “menggigit”.

Tanpa menanggalkan unsur faktualitas dan keabsahan logika yang dipaparkan, pembaca diajak untuk ikut mengarungi perjuangan para tokoh dalam menangkal pemikiran para penggiat Liberalisasi di Indonesia yang pada nyatanya berkeliaran disekitar kita sadar ataupun tidak.

Adian begitu piawai menyusun alur sehingga cukup mudah dipahami oleh orang awam sekalipun walau bahasa yang disampaikan dalam beberapa dialog antartokoh mungkin cukup kasar bagi beberapa penikmat sastra, sebagai sinyal betapa bahayanya Liberalisme apabila dibiarkan menjalar dalam pemikiran muslim. Namun novel ini tidak hanya membahas paham Liberalisme, tapi jauh lebih luas dari spektrum tersebut. Kita dapat menemukan pembahasan mengenai konsep jihad dan mujahid hingga sejarah perjuangan Islam di Nusantara. Kesesatan ideologi Syiah pun dikulik melalui dialog para tokoh yang argumentatif dan tidak menggurui dan menghukumi.

Akhirnya novel ini menjadi seperti kumpulan obrolan para cendekia yang sarat argumen retoris, dilatarbelakangi upaya penyelamatan Kemi yang pada penghujung hayatnya tetap menjadi tumbal liberalisme.

Pada buku ketiga ini, apabila pembaca belum sempat mencicipi sajian pada buku pertama dan kedua mungkin akan sulit untuk memahami maksud dari awal kisah yang memang saling bertautan dengan kisah sebelumnya. Secara keseluruhan kisah Kemi sebagai Tumbal Liberalisme akan banyak menguak rahasia-rahasia tersirat pada buku sebelumnya yang belum tertuntaskan, sebagai pamungkas dari pendahulunya. Akan lebih mengena bagi para pembaca untuk menelaah terlebih dahulu Kemi 1 dan Kemi 2 untuk membulatkan pemahaman dari trilogi Kemi yang disuguhkan Adian Husaini sebagai penulis yang piawai menggabungkan unsur intelektualitas dengan entertainitas dalam karyanya kali ini. Sungguh bukan novel biasa.

Advertisements

Mendapatkan Ilmu

:أخي لن تنال العلم إلّا بستة سأنبك أن تفصيلها ببيان ذكاء وحرص واجتهاد ودرهم وصحبة الأستاذ وطول الزمان “Saudaraku, kau tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara. Aku akan memberitahukannya kepadamu perihal tersebut : kecerdasan, ambisi, usaha, biaya, interaksi dengan guru, waktu yang leluasa.” Sebagai santri yang mengenyam pendidikan formal di KMI dari… Continue reading Mendapatkan Ilmu

The Integration between Teaching and Learning in Gontor’s Teachers Devotion

If we talk about learning, its not too far with the proccess of teaching. The teachers will teach their students to transforming their knowledge to  the students’ minds. Maybe its hard enough for some, but might be exactly amusing for others. And actually, doing the interaction between people is good for increasing our capability and… Continue reading The Integration between Teaching and Learning in Gontor’s Teachers Devotion

Aku

Aku tidak sedang mencari penebusan atas dosa-dosaku.

Aku sedang berusaha menjadi manusia berguna bagi orang lain.
Perkara dosa pahala itu urusan Allah.
Soal aku masuk surga dan neraka itu pun hak Allah.
Aku tak ingin pamrih pada Allah atas apa yang kulakukan baru-baru ini.
Mengapa kau sibuk mengurusi nerakaku?
Karena surga saja belum tentu milikmu.
-Penggali Liang Lahat, Zainul Muttaqin. Islam Digest Republika 27 Mar. 16